Posted by: rgmaisyah on: Januari 21, 2012
Loss of Hair, rambut yang gugur…ditulis berdasarkan referensi dari buku yang disusun Dr. J. Stephan Jellineck. Berikut berisi beberapa penyebab rambut gugur.
Phatologycal loss of hair may be due to different causes. Rothemann, the following :
- Following infectious diseases, such influenza, thypus, scarlet fever, tuberculosis, diabetes; also after pneumonia and certain stages of syphilis.
- Accompanying or following skin diseases, such seborrhoea and psoriasis.
- Following disorders of central nervous system.
- Following functional disorders in internal secretion.
- Following disturbances in diet, digestion, or metabolism.
- An inherited dispotion (alopecia premature), that is “family baldness’.
- An attack by microorganisms (fungi,spores,cocci) or parasites (lice).
- Accompanying premature senescence (alopecia oarasenilis).
- Natural symptom of aging (alopecia senilis).
- Following poisoning (thallium, arsenic, lead, or mercury), after the continuous use of strong medication and sedatives, the excessive consumption of alcohol and nicotine, the influence of chemical solutions or vapors (industrial diseases0, and mercury cures.
- through radiation; for example, after X-ray treatment of hairy parts of body.
- Following continuous mechanical pressure in the absebce of air and light, by constant wear of headscarfts, uniform caps, or steel helmets.
Reference :
Dr. J. Stephan Jellineck. 1970. Formulation and Fuction of Cosmetics. Pages 367-368
Posted by: rgmaisyah on: Mei 21, 2011
Pirogen atau endoksin bakteri adalah produk metabolit dari pertumbuhan mikroba, larut air, tahan panas, LPS-nya tidak dapat dihancurkan dengan sterilasasi uap air/penyaringan (Encyclopedia II: 203).Pirogen adalah produk metabolisme mikroorganisme umumnya bakteri dankapang serta virus telah dilaporan sebagai penghasil pirogen. Bakteri gram negatif memberikan zat pirogenik paten seperti crudotoksin, secara kimiawi, pirogen adalah zat lemak yang berhubungan dengan suatu molekul pembawa yang biasanya merupakan polisakarida, tapi juga merupakan suatu peptida (Lachman : 641).
Pirogen dibagi menjadi 2 kelas (Pyrogen :11):
a) Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh dan menginduksi kenaikan suhu ketika diinjeksikan kepada manusia dan hewan, walaupun lipopolisakarida (endoksin) jelas berada dimana-mana. Pirogen eksogen penting, terdapat perbedaan kimia yang besar yang belum disatukan dalam penyebab kenaikan suhu, ketika diinjeksi dibawah kesadaran yang cocok. Umumnya kelas dari pirogen dan eksogen termasuk mikroba, komponen-komponen mikroba dari bakteri gram negatif, gram positif, fungi, dan virus. Juga pirogenik non mikroba seperti beberapa obat : steroid-steroid, fraksi plasma dan bahan tambahan sintetik muarmil dipeptida. Pirogen endogen dihasilkan secara internal oleh inang dalam respon untuk stimulasi berbagai pirogen eksogen.
b) Pirogen endogen adalah bahan sintetik yang homogen dengan berbagai sel tubuh setelah dikeluarkan sebagai endotoksin oleh pirogen endogen.
Pirogen dapat masuk dalam sediaan dalam arti berupa mikroorganisme hidup/mati. Mungkin sumber terbesar dari berbagai kontaminasi adalah air yang digunakan pada proses pembuatn. Walaupun destilasi yang tepat akan menyediakan air bebas pirogen, kondisi penyimpanannya harus tidak dapat dimasuki oleh mikroorganisme dan pertumbuhannya dicegah.
Sumber potensial yang lain dari kontaminasi adalah perlengkapan. Bahan-bahan pirogenik melekat kuat pada gelas atau permukaan lain. Residu dari larutan dalam peralatan yang digunakan sering terjadi menjadi kultur bakteriyang terkontaminasi pirogenik. Walaupun peralatan yang sudah dicuci dibiarkan di udara dapat mengandung nutrisi yang nyata untuk pertumbuhan mikroorganisme karena pengeringan tidak menghancurkan pirogen, pirogen dapat tinggal dalam peralatan selama jangka panjang. Pencucian yang baik akan menurunkan dan pemanasan kering akan mencegah kontaminasi peralatan yang cocok untuk digunakan bahan terlarut dapat menjadi sumber nitrogen. Bahan terlarut dapat mengkristal/mengendap dari larutan berair yang mengandung kontaminasi pirogenik. Pada proses ini, pirogen dapat didihalangi melalui lapisan partikel. Dalam beberapa kasus, bahan terlarut dapat dimurnikan dengan rekristalisasi dan pencucian pengendapan atau cara lai untuk penghilangan pirogen. Proses pembuatan harus diperhatikan sekali dansecepat mungkin untuk meminimalkan kontaminasi. Tidak ada produk yang seharusnya disiapkan dengan proses yang lengkap dalam satu hari kerja termasuk sterilisasi (RPS 18th : 1550).
Dipirogenasi dapat dicapai dengan 2 cara (pyrogen : 203) : dengan menginaktivasi atau menghilangkan endotoksin. Inaktivasi dapat dilakukan dengan pemurnian molekul lipopolisakarida denganmenggunakan sejumlah besar perlakuan kimia yang memecah / merusak bahan kimia lain/gugus yang dibutuhkan untuk aktivasi pirogenik. Sebagai alternatif lain molekul dapat dirusak secara total dengan menggunakan beberapa metode yang berbeda baik berdasarkan karakteristik fisik dan endotoksin seperti berat molekul dan muatan elektrostatik/afinitas endotoksin pada permukaan yang berbeda.
a) Depirogenasi Endotoksin dengan Inaktivasi
1. Hidrolisis Asam Basa
Despirogenasi menggunakan hidrolisis asam basa/alkali menurunkan atau menghilangkan aktivasi biologi dari lippolisakarida bakteri dengan aktivasi lemak A. Lemak A adalah rantaiinti polisakarida atau 2 keto 3 asam dioksiketon. Rantai asam 8 karbon asam gula khusus dari LPS bakteri Hidrolisis asam aktif pada asam labil ketosidik ini pada inti yang terpisah dari lemak A dari sisa molekul LPS.
2. Oksidasi
Pengetahuan tentang inaktivasi oksidasi dari endotoksin dapat ditemukan ketika Hanrd melaporkan bahwa sel Salmonella Typosa menghilangkan kapasitas produksi demam ketika dicuci dengan H2O2. Dari asam lemak yang dihasilkan dalam lemak A dari LPS dapat dianjurkan.
3. Alkilasi
Endotoksin dilaporkan dengan bahan pengalkil menurunkan pirogenitas endotoksin dihilangkan dengan asam anhidrat. Grup yang sama dilaporkan lapisan diturunkan ketika endotoksin digunakan dengan subsinat anhidrat. Disamping mekanisme reaksi ini secara perlahan dengan asetilasi.
b) Despirogenasi dengan Menghilangkan Endotoksin
Istilah ”pirogen” berarti ”menghasilkan demam”. Jadi pirogen yang mana merupakan substansi yang dibentuk oleh mikroorganisme kadang-kadang terdapat dalam cairan parenteral dan membentuk reaksi fibril ketika larutan diinjeksi ke pasien. Pirogenik yang khas/reaksi fibril tidur dari perasaan kaku dan panas yang mana dapat terjadi ketika 15 menit hingga 8 jam setelah injeksi larutan yang mengandung bahan pirogenik. Pengalaman pasien mengalami kenaikan temperatur dan denyut jantung. Reaksi ini diikuti oleh keringat yang berkelebihan dan turunnya temperatur. Mual, muntah, sakitkepala dan albuminuria dapat menyertai (Scoville’s : 195).
Pustaka :
Posted by: rgmaisyah on: Mei 21, 2011
Steril ialah suatu kondisi dari bahan, alat, dan sediaan yang mutlak bebas dari semua jenis mikroorganisme baik yang patogen, non patogen, beserta sporanya. Sedangkan sterilisasi adalah salah satu cara atau proses untuk menciptakan atau menghasilkan kondisi yang steril (RPS 18 th : 1470).
Injeksi adalah sediaan farmasi steril yang digunakan melalui satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa. Pengunaan rute ini terutama saluran pencernaan tidak dapat digunakan karena pembedahan atau berkurangnya stabilitas obat. Respon farmakologi dari injeksi sering lebih cepat daripada obat yang diberikan secara oral. Injeksi parenteral memberikan respon dengan segera dan nyata (Parrot : 283).
Adapun pengertian dari injeksi volume besar adalah injeksi ini besar untuk digunakan dengan infus i.v biasanya cairan i.v dan digolongkan ke dalam kelompok produk steril yang terdiri dari injeksi volume tunggal yang mempunyai volume 100 ml atau lebih, dari dalam pewadahan tidak ditambahkan bahan-bahan, cairan intravena dikemas dalam wadah100-1000ml (RPS 18 th : 1570). Sedangkan maksud dari infus adalah sediaan parenteral volume besar yang ditujukan untuk diberikan secara intravena yang sering disebut “Intravena” (i.v) cairan atau cairan infus. Infus atau cairan infus dikemas dalam wadah yang mempunyai kapasitas dari 150 sampai 1000 ml. Infus tipe ini dengan wadah kapasitas 250 ml tersedia dengan pengisian 50 ml dan 100 ml larutan obat ketika digunakan dalam teknik “piggyback” (SDF : 163).
Syarat-syarat dari injeksi volume besar ialah harus steril, bebas pirogen dan bebas dari bahan partilukat, dikemas dalam wadah dosis tunggal dalam wadah gelas atau plastik yang sesuai (SDF : 163-164). Kecuali dinyatakan lain, infus intravena tidak boleh mengandung bakterisida dan zat dapar larutan untuk intravena harus jernih dan praktis bebas partikel (FIIII: 12).
Cairan intravena umumnya digunakan untuk sejumlah kondisi klinik. Ini termasuk (RPS 18 th : 1570)
Injeksi ringer adalah larutan steril dari 8,6 g NaCl, 0,3 g KCl, 0,33 g CaCl2, dalam 1 liter larutan yang disiapkan dengan air untuk injeksi. Ini berisi kira-kira 147,5 mEq dari Natrium, 4,0 mEq dari Kalium, dan 4,5 mEq dari Kalsium dan 156 mEq dari Klorida per liter, bahan mikroba tidak ditambahkan (RPS 18 th : 805)
Injeksi volume besar adalah sediaan steril berupa cairan volume besar yang diberikan secara intravena (i.v) merupakan injeksi dosis tunggal yang mempunyai volume 50 sampai 2000 ml walaupun ukuran yang biasa tersedia 150, 250, 500 dan 1000 ml.
Infus adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi tipe M/A, atau suspensi dengan ukuran partikel tidak lebih dari 5 mikron yang diberikan secara intravena, merupakan dosis tunggal dimana larutan dikemas dalam wadah gelas/plastik dengan volume 100 – 1000 ml, disyaratkan harus steril, bebas pirogen, bebas partikulat, isotonis dengan darah, digunakan pada gangguan keseimbangan cairan elektrolit tubuh serta penyiapan nutrisi dasar.
Larutan yang digunakan secara intravena atau dengan infus (Venolisis) harus jernih dan mengandung bahan-bahan yang dapat diasimilasikan dan digunakan oleh sistem sirkulasi seperti NaCl, dekstrosa, elektrolit dan vitamin. Banyak perbedaan dan kombinasi larutan i.v yang tersedia meskipun diinginkan bahwa cairan i.v menjadi isotonis untuk meminimalkan trauma pada pembuluh darah, larutan hipertonik. Hipertonik dapat digunakan dengan baik. Konsentrasi yang tinggi larutan nutrien hipertonik digunakan dalam nutrisi parenteral untuk meminimalkan iritasi pembuluh-pembuluh darah. Larutan digunakan secara perlahan-lahan dengan memasukkan setetes pada vena besar seperti subclausan.
Jarang terjadi larutan i.v digunakan ke dalam jaringan subkutan. Tipe penggunaan ini disebut hipodermolisis dan digunakan untuk bayi atau pasien obesitas dengan vena yang tidak dapat di capai. Dengan sedikit pengecualian (seperti urea, pentotal), LVP tersedia dalam bentuk larutan jernih (biasanya berair) dan sebagai larutan jernih untuk diinjeksikan langsung ke dalam i.v. LVP Non Larutan yang diinjeksikan secara i.v adalah parenteral i.v lemak. Emulsi parenteral mengandung ukuran partikel kira-kira 0,5 μm dengan perhatian khusus dapat digunakan secara intravena.
Semua LVP disyaratkan untuk (Encyclopedia II 201-203) :
Cara pemberian infus (RPS 18 th : 1574) :
a) Injeksi intravena langsung
Volume kecil (1-50 ml) dan obat disuntikkan ke dalam vena dalam waktu singkat.
b) Metode penggantian volume
Alat kontrol volume ditujukan untuk infus berselang larutam obat dan jumlah tepat pengontrolan laju aliran, alat atau metode ini meliputi alat kalibrasi, plastik tempat penampungan cairan langsung dibawah wadah intravena yang sebelumnya dipasang atau lebih yang dilekatkan pada penyediaan cairan yang bebas. Pada kasus lain obat yang diberikan pertama disusun kembali bila obat merupakan padatan steril dan disuntikkan ke dalam tempat suntikan dari unit pengontrol volume lalu dilarutkan dalam 50-150 ml dengan cairan pertama atau cairan yang terpisah. Pemberian seluruh cairan yang mengandung obat 30-60 menit dan menghasilkan konsentrasi puncak pada darah diikuti oleh penurunan bila dosis dihentikan.Prosedur untuk pemberian infus intravena berselang dengan suatu alat pengintrol volume sebagai berikut :
- Menggunakan teknik aseptik, alat penusuk volume kontrol dimasukkan ke dalam cairan intravena utam pada wadah cairan yang terpisah
- Udara dihilangkan dari pipa alat pengontrol volume dengan membuka klem sampai cairan mengalir.
- Klem dibuka di atas tempat kalibrasi dan chamber kalibrasi diisi dengan 25-50 ml cairan dari wadah utama cairan yang terpisah.
- Klem diatas chamber ditutup
- Klem diatas chamber dibuka untuk mencukupkan larutan hingga volume yang diinginkan (50-150 ml) lalu ditutup
- Aliran dimulai jika klem bawah unit volume kontrol dibuka
c) Metode Piggyback
Metode ini menunjukkan berselang intravena dari larutan kedua, campuran obat ini melalui tempat penusukan vena dan sistem intravena yang telah dibuat sebelumnya. Dengan cara ini obat akan masuk pada vena mulai dari bagian atas cairan intravena yang pertama. Teknimk piggyback tidak hanya mengurangi keperluan untuk penusukan vena yang lain, tapi juga menghasilkan pengenceran obat dan konsentrasi puncak dari darah dalam waktu yang singkat biasanya 30-60 menit. Pengenceran obat membantu mengurangi iritasi dan konsentrasi serumyang tinggi sebelumnya merupakan pertimbangan penting dalam infeksi serius yang memerlukan terapi obat yang tepat. Keuntungan ini lebih mempopulerkan metode piggyback dari terapi intravena terutama untuk penggunaan berselang antibiotik. Dalam penggunaan teknik piggyback unit kedua yaitu menghilangkan udara dan jarumnya disuntikkan masuk ke dalam tempat suntik dari obat primer atau ke dalam tempat suntikan pada akhir dari aliran primer.Infus piggyback lalu dijalankan. Jika telah lengkap, cairan infus pertama dapat dijalankan.
Pustaka :
Posted by: rgmaisyah on: April 1, 2011
Metode analisis dengan reaksi reduksi-oksidasi (redoks) adalah analisis yang terdiri dari perubahan valensi dari bahan-bahan yang bereaksi. Reaktan yang mengalami kehilangan elektron dalam reaksi redoks adalah bahan pereduksi dan dapat diidentifikasi dari persamaan untuk reaksi dimana atom reaktan dikonversi ke tingkat yang lebih tinggi (1) :
Fe2+ ————> Fe3+ + e
2I- ————-> I2 + 2e
Maka, bahan pengoksidasi adalah reaktan yang menerima elektron dalam reaksi redoks.
Reaksi yang reversible dari 2I- I2 + 2e dapat diaplikasikan dalam analisis bahan-bahan pereduksi seperti tiosianat dan arsenit. (1)
Iodimetri adalah oksidasi kuantitatif dari senyawa pereduksi dengan menggunakan iodium. Iodimetri ini terdiri dari 2, yaitu (2);
a. Iodimetri metode langsung, bahan pereduksi langsung dioksidasi dengan larutan baku Iodium. Contohnya pada penetapan kadar Asam Askorbat.
b. Iodimetri metode residual ( titrasi balik), bahan pereduksi dioksidasi dengan larutan baku iodium dalam jumlah berlebih, dan kelebihan iod akan dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat. Contohnya pada penetapan kadar Natrium Bisulfit.
Iodometri adalah bahan pengoksidasi yang mengoksidasi Kalium iodida (KI) dalam suasana asam, sehingga Iod yang dibebaskan kemudian ditentukan dengan menggunakan larutan baku Natrium tiosulfat. Contohnya pada penetapan kadar Tembaga (II) sulfat. (2)
Hal-hal yang harus diperhatikan (2,3):
a. Pada umumnya oksidasi langsung dengan iod (Iodimetri) dilakukan untuk bahan-bahan dengan potensial oksidasi yang lebih rendah dari Iod, dan sebaliknya.
b. Oksidasi oleh oksigen atmosfer pada reaksi oksidasi KI dalam medium asam kuat, dapat menghasilkan nilai titer yang salah sehingga menyebabkan kesalahan estimasi/perkiraan.
c. Iodometri tidak pernah dilakukan dalam medium basa karena reaksi antara Iod (I2) dengan hidroksida akan menghasilkan ion hipoiodit dan iodat akan akan menjadi 2I-. Dimana 2 mol I- akan mengoksidasi parsial tiosulfat menjadi bentuk oksidasi yang lebih tinggi seperti SO42-
Penentuan titik akhir titrasi (1,2,3,4) :
a. Indikator kanji ( konsentrasi 0,5% yang dibuat segar dengan menggunakan pati larut yaitu β-amilosa).
b. Instrument : Potensiometri atau amperometri.
c. Warna iod dalam pelarut organik misalnya karbon tetraklorida dan kloroform. ( khusus untuk titrasi yang tidak memungkinkan penggunaan indicator kanji, sehingga tidak perlu ditambahkan indikator). Warna merah ungu dari iodin dalam karbon tetraklorida dapat dilihat pada larutan iodin dengan kepekatan yang sangat rendah, sifat inilah dipakai untuk menentukan titik akhir titrasi dengan hilangnya warna merah ungu pada lapisan karbon tetraklorida.Selain karbon tetraklorida, dapat juga dipakai kloroform sebagai indikator dengan sifat yang sama dengan karbon tetraklorida.
Larutan baku dan baku primer/sekunder (1,2,3,4) :
a. Larutan baku Iodium yang dibakukan dengan Arsen trioksida sebagai baku primer atau dibakukan dengan larutan baku natrium tiosulfat sebagai baku sekunder.
b. Larutan baku natrium tiosulfat yang dibakukan dengan Kalium bikromat sebagai baku primer atau dibakukan dengan larutan baku Iodium sebagai baku sekunder.
c. Larutan baku Kalium Bromat yang dibakukan dengan larutan baku natrium tiosulfat sebagai baku sekunder. ( dipakai untuk penetapan kadar secara iodometri yang melibatkan substitusi bromine dengan iod, misalnya penetapan kadar tiroid)
d. Larutan baku kalium Iodat yang dibakukan dengan larutan baku natrium tiosulfat. ( dipakai untuk penetapan kadar secara iodometri dimana kalium iodat bertindak sebahan bahan pengoksidasi, hasil reaksi membebaskan iod yang kemudian dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat, misalnya penetapan kadar Kalium iodide)
Referensi :
1. Adelbert M. Knevel (Ed.). Jenkin’s : Quantitative Pharmaceutical Chemistry, 7th Edition. 1959. MC-Graw Hill Book Company. New York.
2. Ashutosh Kar. Pharmaceutical Drug Analysis. 2005. New Age International Limited Publishers. New Delhi.
3. I.M. Kollthoff (Ed.). Volumetric Analysis. MC-Graw Hill Book Company. New York.
4. Yeanny Wunas & Susanti Said. Kimia Analisis Kuantitatif. 1998. Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Download file nitro pdf click here…….
Posted by: rgmaisyah on: Februari 12, 2011
E-book ini untuk melengkapi bahan pustaka buat teman-teman yang penelitian menggunakan instrumen densitometri/HPTLC.
1. Applied Thin Layer Chromathography
2. CAMAG_TLC2005_E (source from www.camag.com )
3. Multidimensional Chromatography
Nb : To Acil,06..
Afwan…bukunya telat diupload karena gangguan koneksi internet.
Semoga bermanfaat.
Posted by: rgmaisyah on: Februari 8, 2011
Mohon maaf yg sebesar-besarnya….
ternyata link ke my other blog on blogger.com telah di hack oleh Israel…diarahkan menuju link megabible.com
Perbaikan telah dilakukan, tautan ke blog tersebut telah kembali normal.
PS ;
Buat yg menghacker…
(To t’ Hacker…)
Silahkan mencari pekerjaan lain yg lebih berguna
(Please, looking for another useful job)
yg membuat hidup anda lebih damai…
(that make your life in peace…)
Posted by: rgmaisyah on: Januari 27, 2011
Assalamu alaikum, Wr.Wb.
Alhamdulillah, sampai detik ini Allah masih memberikan nikmat usia dan kesehatan kepada kita semua sehingga saya masih diberi kesempatan untuk menulis dan berbagi ilmu bersama anda, pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk mencari dan berbagi ilmu di blog sederhana ini.
Mohon maaf, dikarenakan kesibukan sebagai seorang ibu baru dan sebagai mahasiswi yang sedang menyelesaikan tugas akhir, menyebabkan blog ini kurang ter-update akhir-akhir ini. Mohon doanya, agar semua urusan dilapangkan dan dimudahkan oleh Allah SWT. Insya Allah, kita akan tetap berbagi ilmu bersama.
Please visit my other blog on
http://rgmaisyah.blogspot.com/
Thanks 4 visit here………
Posted by: rgmaisyah on: Desember 13, 2010
Lipstick terdiri dari basis putih (fraksi padat, cair, semi-pasta) dan basis berwarna. Basis putih berasal dari berbagai jenis dan sifat wax (beeswax, nauba wax, dll) dan berbagai minyak (navati, sintetik, dll). Wax berperan dalam pembentukan struktur stick, mengatur kemampuan ketahanan terhadap pemanasan dan tingkat kekerasan pada penggunaan. Di sisi lain, minyak membuat lipstik berkilau, mudah digunakan, tapi sayangnya juga bertanggung jawab atas terbentuknya rembesan. Material lemak lainnya seperti butter, minyak nabati terhidrogenasi dan ester lemak dihubungkan antara wax dan minyak, berperan penting dalam homogensitas, ketebalan, berwarna krim, berlemak dan menahan lapisan pada bibir; dan sebagai basis warna.
Basis warna dibentuk dari pigmen dan mutiara. Pigmen memberikan warna pada lipstick dan kemampuan melapisi. Konsentrasi pigmen murni dapat bervariasi dari 1% hingga 10 % bergantung pada tipe poroduk (lip gloss hingga lipstick gelap). Pigmen yang sering digunakan adalah mineral (titanium dan besi oxida) dan pigmen organik (pigmen sejati, toner, dan lakes). Berupa bahan yang tidak larut, komponen ini secara halus didispersikan secara mekanik pada bagian minyak (pengikat), yang harus mempunyai affinitas dengan pigmen untuk menjamin pembasahan, dispersi dan menjaga partikel dasar pada suspensi. Pada mutiara, bahan ini tidak harus ada pada komposisi lipstick tapi dapat ditambahkan agar tampak satin, efek warna-warni dan gemilap. Bahan ini ditambahkan pada akhir proses untuk mencegah kehilangan efeknya.
Pentingnya penetuan bahan pewarna pada produk kosmetik
Penentuan bahan pewarna pada produk kosmetik
Lipstick sebagai produk kosmetik dekoratif mengandung persen tertinggi penggunaan bahan pewarna, seringkali berupa campuran dari sejumlah bahan pewarna. Bahan pewarna lipstik biasanya digunakan pada kisaran 1-10%.
Umumnya, bahan pewarna yang ada pada produk kosmetik harus diisolasi dari matriks untuk proses analisis kualitatif dan kuantitatif-nya. Bahan pewarna pada produk kosmetik cair jernih atau pada produk yang secara umum dapat larut diperoleh tidak membutuhkan isolasi selama spektrofotometer UV/Vis dapat menganalisanya tanpa gangguan dari kandungan lainnya.
Pada umumnya, isolasi bahan pewarna bergantung pada matriks dimana produk terbuat dan kelarutannya dan sifak fisika kimia lainnya dari bahan pewarna. Isolasi bahan pewarna dari produk lipstick yang berupa dye dapat dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair (dengan sistem pelarut dua fase) dan berbagai tekhnik adsorpsi seperti ekstraksi fase padat. Bila berupa lakes dan pigmen tidak dapat dipisahkan secara adsorpsi dari matriks-nya; dimana, lemak dan komponen lainnya, seperti dye, harus dieliminasi sehingga pigmen dapat diambil sebagai sebuah residu.
Ketika bahan pewarna yang telah diekstraksi dari lipstick,bahan-bahan tersebut selanjutnya dipisahkan satu sama lain, diidentifikasi dan dihitung menggunakan metode yang dikembangkan untuk tujuan tersebut.
Thin Layer Chromatography (TLC)
TLC adalah tekhnik pemisahan yang umum digunakan pada sejumlah dye yang di dalamnya saling bercampur. Silika gel merupakan adsorben yang paling sering digunakan, diikuti alumina dan mikrokristalin selulosa. Setelah larutan dye membentuk noda atau lintasan, lempeng TLC dikembangkan dengan sistem pelarut yang cocok dan kemudian dikeringkan. Selanjutnya, dye yang telah terpisah, secara individu dilepaskan dengan cara dikeruk dan dye tersebut diekstraksi dari adsorben. Akhirnya, bahan tersebut diidentifikasi dan dihitung dengan cara spektrofotometri.
TLC telah digunakan secara umum untuk pemisahan bahan pewarna yang ada pada lipstick. Silk (1965) mengembangkan metode dengan 15 bahan pewarna pada lipstick yang dianalisis tanpa pengeliminasian terlebih dahulu karena lipstick secara langsung dikerjakan pada lempeng TLC silika gel hangat. Bahan pewarna dipisahkan dengan 2 langkah: elusi dengan metilen klorida yang membawa lemak dan minyak ke puncak lempeng dan mampu memisahkan dye larut minyak dan meninggalkan dye larut air dan pigmen menurut sifatnya; kemudian dye larut air dipisahkan satu sama lain dengan cara mengelusi menggunakan etil asetat:metanol:8,7% ammonium hidroksida (15:3:3). Senyawa-senyawa pewarna yang telah terpisah dilepaskan dengan cara dikeruk, dan dye diekstraksi dari silika gel ke dalam pelarut dan diidentifikasi/dihitung dengan UV/Vis.
Sampel Lipstik
↓
Ekstraksi material lemak dengan hexan → fase cair (dye larut lemak)
↓
Residu padat
↓
Ekstraksi dengan DMF/H3PO4
↓
Diencerkan dengan air → endapan: pigmen non-ionik azo
↓
Larutan
↓
Pemisahan kromatografi dengan kolom polyamide kecil
↓
Elusi
↓
Cuci dengan air ( pewarna dasar )
↓
Cuci dengan metanol
↓
Cuci dengan aseton
↓ ( pigmen non-ionik azo )
Cuci dengan kloroform
↓
Cuci dengan metanol
↓
Cuci dengan Metanol/ammonia 95:5
↓
Dye mengandungasam sulfonat, asam karbosiklik(xanthen), pigmen anionik
Gambar: Metode umum untuk mengekstraksi pewarna yang ada pada lipstik
Liquid Chromatography (LC)
Akhir-akhir ini, kombinasi LC dengan deteksi UV/Vis paling sering digunakan untuk menghitung dye dan pigmen. LC pertukaran ion menggunakan kolum pengganti anion (or kolom pengganti ion untuk pemisahan dye tipe azo) dan elusi gradien dengan eluen terdapar. LC fase terbalik menggunakan kolom yang dikemas dengan fase short-chain alkyl-bonded silica (Octyl (C8)), amino-bonded, dan cyano-bonded, atau material kemasan cross-linked polystyrene-divinylbenzene copolymer. Bergantung pada komposisi eluen (biasanya didapar utnuk mencapai tingkat pH yang sesuai dan dimodifikasi dengan pelarut organik seperti metanol atau asetonitril), Salah satu dapat mempengaruhi afinitas analit untuk kolom kemasan material oleh penekanan ion atau mekanisme pasangan ion, menggunakan baik isocratic atau eluen gradien. Metode yang dipilih untuk mendeteksi adalah detektor UV/Vis diode-array (DAD), yang mempunyai kemampuan perekaman secara simultan data absorben dari 190-800 nm. Keuntungan lain dari DAD adalah kesesuaian dengan perpustkaan spektral yang sebelumnya menganalisis bahan standar yang telah teridentifikasi puncaknya.
Wegener dkk. (1987) mengkarakteristikan 126 bahan pewarna melalui waktu retensinya dan spektra UV/Vis yang dicapai dengan sistem LC fase terbalik pasangan ion. Sebuah kolom kemasan silika C18 dan elusi gradien digunakan dengan sebuah eluen yang dibuat dari air suling dan larutan encer tetrabutilammonium hidroksida (pereaksi pasangan ion) pada campuran air metanol (pH 7,0 diatur dengan asam fosfat). Spektra UV/Vis direkam dengan DAD. Pada sampel sediaan lipstick, terlebih dahulu dibebaslemakkan dengan cara mengekstraksi menggunakan larutan asam dimethyformamide (DMF) yang mengandung 5% asam fosfat dengan n-hexan, diikuti oleh filtrasi. Filtrat tersebut diencerkan dengan larutan air tetrabutilammonium hidroksida 0,1 M dan dilakukan ekstraksi sebanyak dua kali dengan kloroform. Gabungan ekstrak kemudian dikonsentrasikan dan dianalisa oleh LC.
Daftar Pustaka
Salvador, A. & Chisvert, A. (2007). Analysis of Cosmetic Product. Elsevier. Oxford
Posted by: rgmaisyah on: Desember 13, 2010
Lipstik adalah sediaan kosmetik yang mengandung bahan dasar pewarna dan parfum yang digunakan pada bibir untuk mempercantik bibir dimana pemakaiannya dengan cara dioleskan pada bibir.
Kegunaan lipstik :
Syarat Lipstik Yang Baik :
(Balsam I:377 dan Keithler :150)
Adapun pewarna yang digunakan dalam lipstik :
- Lake pewarna dari grup eosin yang larut minyak
- Yang tidak larut minyak
- Kombinasi keduanya
- Asam bromo digunakan untuk memproduksi lipstik yang agak sulit dihapus pada lapisan yang digunakan.
Cth : derivat bromine dari fluoroscein (di dan tetra-bromo – fluorescein)
Asam lemak alkilamida. Mempunyai kapasitas pelarut yang sedikit untuk eosine dyes, tetapi dikompensasikan oleh alkilamida, ketika digunakan pembawa untuk dyes, meningglkan warna yang mempunyai intensitas yang tinggi pada kulit (intensitas warna tidak hanya tergantung pada konsentrasi dyes tetapi juga pelarut yang digunakan).
SURFAKTAN
Surfaktan adalah bahan aktif permukaan yang menurunkan tegangan antarmuka antara minyak dan air dan mengelilingi tetesan terdispersi dengan membentuk lapisan yang kuat untuk mencegah koalesensi dan pemisahan fase terdispersi.
Kegunaannya adalah membasahkan dan mendispersikan partikel pigmen padat.
Kekurangannya adalah mempengaruhi konsistensi dari stick
BAHAN ANTIOKSIDAN
Bahan antioksidan digunakan untuk mencegah oksidasi.Lipstik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Antioksidan yang umumnya digunakan dalam lipstik meliputi :
¨ Hidroksianison terbutilasi
¨ Hidroksitoluen terbutilasi
¨ 2,5, di-tert-butilhidroquinon
¨ Propil gallat
Bahan Dasar Lipstik
¨ Bahan minyak
¨ Bahan lemak
¨ Bahan dasar lilin
Bahan dasar minyak
¨ Minyak tumbuh-tumbuhan
¨ Minyak mineral
¨ Minyak jarak
¨ Butil stearat
¨ Isopropil miristat dan isopropil palmitat
¨ Dietil sebacate dan diisopropil adipate
¨ Ester lain
Bahan dasar lilin
Contohnya :
METODE PEMBUATAN LIPSTIK
IRITASI DAN SENSITIVITAS
Bibir dapat lebih mudah terkena efek sensitasi daripada kulit karena tidak memil;iki lapisan tanduk.
Cheilitis atau dermatitis pada bibir dalam penggunaan lipstik jarang terjadi.
Beberapa faktor yang dapat menimbulkanb
Beberapa faktor yang dapat menimbulkan efek:
- Banyaknya zat pewarna yang digunakan
- D & C Red No.27 digunakan lebih banyak dari sebelumnya .
Posted by: rgmaisyah on: Desember 13, 2010
Bedak wajah prinsipnya adalah suatu produk kosmetik yang memiliki fungsi utama kemampuan untuk melengkapi warna kulit dengan memberi hasil akhir seperti beludru. Ini harus memberikan tampilan pada kulit dengan menutupi kulit yang mengkilap akibat sekresi kelenjar sebaseus dan kelenjar keringat. Suatu bedak harus mencapai efek ini dengan menjadi buram. Untuk mampu memberikan efek cukup buram untuk menutupi cacat, tapi ini harus tidak memberikan efek seperti topeng. Selain itu, bedak harus bersifat cukup tahan lama sehingga tidak dibutuhkan pembedakan berulang kali.
Warna dari kulit juga menggambarkan aktivitas biologis dari jaringan epidermis dan dapat merupakan indikasi bagi seorang wanita yang normal pada umumnya. Hidung yang merah, mungkin merupakan gambaran dari pembuluh darah. Titik merah pada pipi yang sangat merah, pancaran wajah yang pucat kekuningan, bintik-bintik hitam di bawah mata menunjukkan tanda-tanda tak bercahaya – menunjukkan jalan hidup atau pola hidup dari orang tersebut.
Selain itu hampir semua orang memiliki kerutan dan garis-garis yang menunjukkan perubahan pada usia. Dan hal tersebut, menggambarkan temperamen ; kadang-kadang bintik-bintik, tanda lahir yang kecil, pembesaran pori-pori, bekas jerawat, luka akibat lesi kulit dan sebagainya. Ini merupakan gejala-gejala dari prilaku seorang wanita yang berharap untuk menjadi lebih menarik. Yang mana gejala-gejala yang tidak menyenangkan di atas dapat tertutupi.
Efek penutupan ini dapat dicapai dengan penggunaan bedak wajah, cream foundation dan make-up cair, dan tambahan lainnya.
Pembagian bedak
Pertimbangan utama dalam pembuatan bedak adalah pemilihan bahan dasarnya. Spektrum dari bahan dasar yang digunakan cukup sempit, sebab kualitas dari masing-masing komponen lebih penting, karena hal ini akan memberikan keterlibatan yang sangat penting dalam penentuan formulasi bedak.
Bedak wajah harus merupakan campuran dari bahan dasar yang spesifik jika ini akan menjadi suatu produk yang dapat memberikan sifat yang diinginkan.
2. Bedak padat
Bedak padat yang perkenalkan di Amerika pada tahun 1930 telah mencapai popularitasnya dikarenakan penggunaannya yang sangat mudah dan penyimpanan yang nyaman. Bedak padat adalah bedak kering yang telah dikompres menjadi padatan dan biasanya digunakan dengan spons bedak. Komposisinya mirip dengan bedak tabur, tapi efeknya pada kulit berbeda pada beberapa tingkat. Pengikat yang terkandung dalam bedak padat memberikan adhesi yang besar. Sebagai hasil dari proses pengepresan, ukuran partikel rata-rata umumnya lebih besar pada bedak padat daripada bedak tabur ; efek kasar dari butiran-butiran tersebut tentu sangat tidak diinginkan. Bedak padat harus dapat menempel dengan mudah pada spons bedak, dan padatan bedaknya harus cukup kompak, tidak pecah atau patah dengan penggunaan normal.
Komposisi bedak
Komposisinya :
Secara kimiawi, talk adalah magnesium silikat (3MgO. 4SiO2.H2O). ini merupakan bahan dasar dari segala macam formulasi bedak modern sifat yang sangat luar biasa adalah mudah menyebar dan kekuatan menutupi yang rendah. Untuk bedak wajah talk harus putih dan tidak berbau dengan rasa halus. Tentu saja sifat mudah menyebar yang sangat baik ini adalah yang paling dibutuhkan.
Ukuran partikel dari talk adalah salah satu kriteria untuk standar kualitasnya. Paling tidak 98% harus dapat melewati ayakan 200 mesh ( tidak lebih besar dari 74 mikro ) talk termikronisasi sekarang sudah tersedia di mana ukuran partikel dapat dikurangi menjadi beberapa mikron. Penggunaan dari talk termikronisasi dalam ukuran partikel dan nilai massa besar yang diinginkan. Padatan dari massa besar adalah sangat penting dalam talk, karena variasi sangat mempengaruhi kualitas sekaligus pengepakan dari produk akhir.
Warna dari kaolin yang digunakan harus secerah mungkin. Bahan dasar harus dimurnikan secara baik untuk memindahkan keseluruhan bahan tidak murni dan partikel kasar.
Tidak semua aluminium silikat dapat diklasifikasikan sebagai kaolin, namun 3 kelompok di bawah ini secara khusus memiliki formula yang sama ( Al2O3. 2SiO2.2H2O) dan dapat disebut kaolin : nacrite, dickite, dan kaolinite.
Karena kaolin higroskopis penggunaannya pada bedak wajah umumnya tidak melebihi 25%.
Kalsium karbonat digunakan untuk mengurangi cahaya dari talk dan memiliki kekuatan melapisi yang baik. Ini membantu untuk absorpsi parfum dan juga tahan lemak. Dan menyerap keringat. Kapur juga sangat baik untuk memberikan efek berseri-seri ketika bedak wajah digunakan.
Kapur adalah basa lemah, putih, serbuk mikrokristal tak berbau ; tidak mengkilap, dan memiliki rasa kapur. Ketika bahan dasar ini digunakan secara berlebihan, bedak dapat memberikan rasa kering, tapi penggunaan yang layak adalah sangat membantu dalam formula bedak wajah.
Sifat yang baik dari magnesium karbonat membuatnya umum digunakan dalam bahan penyusun bedak. Magnesium karbonat memiliki sifat absorben yang baik dan terbukti memiliki sifat mendistribusi parfum yang baik. Kerapatannya adalah bagian dari lapisan magnesium karbonat, kualitas yang mana memberikan perkembangan pada tipe kehalusan dari bedak.
Zink dan magnesium stearat sejauh ini merupakan bahan yang paling sering digunakan dari logam stearat. Untuk bedak wajah, stearat harus memiliki kualitas yang tinggi untuk mencegah timbulnya keasaman, bau yang tidak diinginkan.
Sifat yang paling penting dari zink dan magnesium stearat adalah sifat adhesif dan anti air. Zink stearat, yang paling sering digunakan juga memiliki efek menenangkan.
Penggunaan yang berlebihan, stearat dapat menyebabkan noda dan efek jerawat pada kulit. Dalam jumlah yang cukup (4-15%) zink stearat memberikan sifat adheren pada bedak wajah.
Terdapat 2 bahan pengopak yang biasa digunakan dalam formulasi bedak wajah : zink oksida dan titanium dioksida. Terlalu banyak digunakan bahan ini dapat menghasilkan efek seperti topeng yang mana tidak diinginkan ; terlalu sedikit membuat bedak tidak dapat menempel pada tubuh.
Diketahui bahwa zink oksida memiliki beberapa sifat terapeutik dan membantu menghilangkan kecacatan pada kulit. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan kulit kering.
Penggunaan dari amilum telah memberikan masalah mudahnya terdekomposisi oleh bakteri, karena mengandung nutrisi yang cocok untuk bakteri. Sifat mencerahkan dan menjerap adalah yang diberikan dari amilum yang mana sekarang juga dapat diberikan oleh kalsium karbonat dan senyawa lain dalam formula bedak wajah.
Silika dan Silikat dapat berguna dalam bedak wajah untuk menjaga sifat mengalir bebas, walaupun dengan kelembaban yang tinggi. Silikat dapat juga berfungsi sebagai pembawa parfum.
Penggunaan dari silikat halus seperti magnesium trisilikat membantu dalam bedak karena mereka memiliki sifat menyerap yang sangat baik terhadap air dan minyak.
Pigmen sintetik bismut oksiklorida telah dikembangkan untuk menggantikan guanin. Walaupun sensitif terhadap cahaya, bismut oksiklorida cukup dapat beradaptasi untuk digunakan dalam bedak wajah cerah untuk memberikan efek metalik, kilauan seperti mutiara.
Bahan pewarna adalah dasar dari seni menciptakan bedak wajah yang mana menampilkan nuansa bayangan yang diinginkan. Pewarna digunakan dalam variasi yang berbeda baik pigmen inorganik ataupun anorganik.
Jumlah dari pewarna yang dibutuhkan tergantung besarnya derajat tipe yang digunakan dalam formula. Bahan pengopak dari oksida dan transparansi dari talk sangat mempengaruhi jumlah pewarna yang diinginkan.
Pemilihan parfum yang cocok dan sifat efisiennya yang digunakan dalam bedak wajah adalah sangat penting, karena bau dari bedak memiliki peranan yang penting dalam kemampuan penjualan dari produk. Penggunaan parfum yang cocok bukan merupakan prosedur yang mudah, karena permukaan yang sangat luas dari padatan bedak dan kemungkinan reaksi dari parfum dengan bahan-bahan dasar lainnya. Jika bahan dasar merupakan bahan-bahan yang halus, wangi yang dipilih akan lebih sedikit daripada masalah dalam penyelesaian formulasi bedak wajah.
Ini sangat penting bahwa parfum yang digunakan harus tidak mengiritasi, stabil pada kondisi basa lemah dan tidak mengalami oksidasi atau menguap dengan cepat. Pengharum harus tercampurkan dengan semua bahan penyusun bedak karena masalah dengan keasaman, heterogen dari bau dan diskolorasi dapat terjadi dari pemilihan bau yang tidak cocok.
2. Bedak padat
Pada dasarnya bahan dasar yang terkandung dalam bedak padat adalah identik dengan yang digunakan dalam bedak tabur. Namun, terdapat 2 karakteristik untuk bedak padat yang mana tidak terdapat dalam bedak tabur, kemampuan mengikat dan mudah lepas.
Dasar dari padatan bedak harus dapat dikempa dengan mudah, kemudian bersatu bersama dan tidak bergelombang atau retak di bawah kondisi penggunaan yang normal. Untuk mencapai kondisi ini bahan pengikat dibutuhkan.
Bedak padat juga harus memiliki sifat mudah lepas ketika digosokkan dengan spons bedak; ini harus mudah terlepas kepada pengguna bedak. Tekanan yang terlalu rendah akan menghasilkan padatan yang sangat mudah hancur; tekanan yang terlalu besar akan menghasilkan padatan yang keras yang mana tidak mudah terlepas.
a. Bahan pengikat
Beberapa jenis bahan pengikat yang digunakan dalam bedak wajah adalah bervariasi dan banyak. Oleh karena itu, terdapat 5 tipe dasar pengikat yang digunakan :
1. Pengikat kering
Pengikat kering seperti logam stearat (Zink atau Magnesium) stearat telah didiskusikan dalam bagian bedak tabur. Penggunaan dari pengikat kering dibutuhkan untuk meningkatkan tekanan bagi kompaknya bedak padat.
2, Pengikat minyak
Minyak tunggal, seperti minyak mineral isopropil miristat dan turunan lanolin, dapat sangat berguna untuk dicampurkan dalam formula sebagai pengikat. Mereka ditemukan digunakan secara luas dalam banyak formula bedak padat.
3. Pengikat larut air
Pengikat larut air yang biasa digunakan di masa lalu umumnya adalah larutan gum seperti tragakan, karaya, dan arab. Dalam kategori ini, sintetik seperti PVP (Polyvinylpyrolidone) metil selulosa, karboksil metil selulosa juga telah digunakan dalam larutan air. Suatu pengawet penting dalam medium gum dan berguna dalam semua larutan pengikat dari tipe ini untuk mengatasi pertumbuhan bakteri.
4. Pengikat tidak larut air
Pengikat tidak larut air digunakan secara luas dalam bedak padat. Minyak mineral, lemak ester dari segala tipe, dan turunan lanolin, dapat digunakan dan dicampur dengan jumlah yang baik dari air untuk membantu pembentukan bedak padat yang halus dan kompak. Penambahan bahan pembasah akan membantu untuk menyeragamkan distribusi kelembaban bedak.
5. Pengikat emulsi
Karena kesulitan tercapainya keseragaman penggunaan pengikat tidak larut air dalam bedak padat, peneliti telah mengembangkan bahan pengikat emulsi yang sekarang digunakan dengan luas. Seperti emulsi yang mengizinkan distribusi yang seragam baik pada fase minyak maupun fase air, yang mana penting dalam kepuasan pengempaan serbuk. Karena pengikat emulsi tidak akan kehilangan kelembaban secepat pengikat tidak larut air, penggunaannya mengizinkan prosedur pembuatan yang lebih halus. Penggunaan dari minyak dalam bentuk emulsi bermaksud untuk mencegah penggumpalan yang dapat muncul ketika minyak tunggal digunakan sebagai pengikat dalam bedak wajah.
Metode pengempaan
Terdapat 3 prosedur umum yang digunakan dalam industri pembuatan bedak padat :
Proses kempa basah metode kempa lembab dan metode kempa kering. Proses kempa basah sekarang tidak dipakai lagi di USA, dan kebanyakan perusahaan kosmetik menggunakan proses kempa lembab atau proses kering dalam pembuatan bedak padat.
new comment....