Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok (1), Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Basis untuk salep mata biasanya petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis larut air juga digunakan. Obat jika tidak larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril (2). Salep mata memberikan keuntungan waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama. Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris (3).

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh sediaan berupa salep mata (3):

  • Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang bernar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi.

  • Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma.

  • Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau merkuri organik.

  • Salep akhir harus bebas dari partikel besar.

  • Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai.

  • Sterilitas merupakan syarat yang paling penting, tidak layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien (2). Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme, satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang, namun juga ditemukan disaluran intestinal, dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara (4).

Karakteristik sediaan salep mata (3):

  • Kejernihan

Larutan mata adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi. Tentunya, pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk menghilangkannya. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam lingkungan yang bersih, penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. Keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan tak tertumpahkan. Wadah atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama dalam penyimpanan. Normalnya dilakukan tes sterilisasi

  • Stabilitas

Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung sifat kimia bahan obat, pH produk, metode penyiapan (khususnya penggunaan suhu), zat tambahan larutanb dan tipe pengemasan

Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6,8. Namun demikian pH stabilitas kimia (atau ketidakstabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan. Dengan obat ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pada pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun

  • Buffer dan pH

Idealnya, sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekuivalen dengan cairan air mata yaitu 7,4. dan prkteknya jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif dalam optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. Ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut. Suspensi biasanya paling stabil pada pH asam

pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi optimum untuk stabil. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini

  • Tonisitas

Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan berair. Larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketikamagnitude sifat koligatif larutan adfalah sama. Larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0,9 % larutan NaCl

Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari suatu waktu yang diusulkan. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0,5 % – 1,8 % NaCl intraokuler. Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas produk dipertimbangkan

  • Viskositas

USP mengizinkan penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti metil selulose, polivinil alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan viskositas

Investigator telah mempelajari efek peningkatan viskositas pada waktu kontak dalam mata. Umumnya viskositas meningkat dari 25 – 50 cps range signifikan meningkatkan lama kontak dalam mata

  • Bahan Tambahan

Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata dibolehkan, namun pemilihannya dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya natrium bisulfit atau metasulfit, digunakan dalam konsentrasi sampai 0,3 %, khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askobat atau asetilsistein dapat digunakan. Antioksidan ini berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin

Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. Surfaktan nonionik, keluar toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendahkhususnya suspensi steroid dan berhubungan dengan kejernihan larutan. Surfaktan jarang digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan kelarutan

Penggunaan surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi signifikan, sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahan. Surfaktan nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet. Benzalkonium klorida dalam range 0,01 – 0,02 % dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi, sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar larutan dengan suspensi sediaan mata

Cara penggunaan salep mata (3) :

  1. Cuci tangan

  2. Buka tutup dari tube

  3. Dengan satu tangan, tarik kelopak mata bagian bawah perlahan-lahan

  4. Sambil melihat keatas, tekan sejumlah kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah (± ¼ – ½ inci). Hati-hati agar tidak menyentuhkan ujung tube pada mata, kelopak mata, jari, dll

  5. Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata kesegala arah pada saat mata ditutup. Kadang-kadang pengaburan dapat terjadi

  6. Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan obat melalui fornix.

  7. Tutup kembali tube

    • Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka.

    • Pada saat tube salep dibuka pertama kali, tekan keluar ¼ inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering.

    • Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun.

    • Jika mempunyai lebih dari satu tube untu salep mata yang sama, buka satu tube saja.

    • Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep mata pada waktu yang sama, tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep lainnya.

    • Untuk memperbaiki aliran dari salep, pegang tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan.

    • Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengan persis di depan cermin.

    Referensi :

    1. Ditjen POM RI, Farmakope Indonesia Edisi Ketiga (1979), Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
    2. Salvatore Turco & Robert E. King , Sterile Dosage Forms (1974), Lea & Febiger, Philadelphia.
    3. A.R. Gennaro, Remington’s Pharmaceutical Sciences 18th Edition (1990), Mack Publishing Company, Pennsylvania.
    4. Joseph B. Sprowls, Prescription Pharmacy (1970), J.B. Lippincott Company, Toronto – Philadelphia.


About these ads

About rgmaisyah

Hidup sangat indah bila kita mau berbagi kebahagiaan kepada sesama...

9 responses »

  1. SALEP MATA mengatakan:

    […] Original post by rgmaisyah […]

  2. edi ahsani mengatakan:

    thanks infonya,,,
    lam kenal.

  3. tria mengatakan:

    makasih banyak ya infonya!

  4. bibee mengatakan:

    makasih banyak kak

  5. rintis mengatakan:

    Thanks infonya ya. bleh nanya gak, apa sc bedanya antara salep mata dengan obat mata dilihat dari penggunaannya dan efek teraupetiknya?.

  6. rintis mengatakan:

    Thanks infonya ya. bleh nanya gak, apa sc bedanya antara salep mata dengan obat tetes mata dilihat dari penggunaannya dan efek teraupetiknya?.

  7. juwita mengatakan:

    thx ya infonya…
    salam kenal,,,,
    boleh tlg post terjemahan dari remington gak??

  8. […] BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Obat mata biasanya berbentuk cairan (obat tetes mata) dan oitmen/ obat salep yang dikemas dalam bentuk kecil. Karena sifat selaput lendir dan jaringan mata yang lunak dan responsif terhadap obat, maka obat mata biasanya diramu dengan kekuatan yang rendah. Sedangkan salep mata atau dalam istilah farmasi disebut oculenta adalah salep yang digunakan pada mata. Salep ini harus sterildan disimpan di dalam tube salep mata yang steril. Pemberian obat ini bertujuan untuk mengobati gangguan pada mata, untuk mendilatasi pupil pada pemeriksaan struktural internal mata, untuk melemahkan otot lensa mata pada pengukuran refraksi mata, untuk mencegah kekeringan pada mata. Dalam dunia kesehatan salep atau obat mata sering digunakan untuk pengobatan pada mata. Obat mata tersebut digunakan dari mulai orang dewasa hingga bayi baru lahir. Pada bayi baru lahir biasanya obat mata digunakan untuk membersihkan mata bayi dari air ketuban yang menempel pada bagian mata bayi tersebut. Bayi bisa saja terkena air ketuban jika ia lahir dengan ketuban keruh, preeklamsi, vacum, jalan lahir macet atau ke jadian lain serupa yang dapat mengganggu mata bayi untuk melihat secara jernih. Maka obat mata biasa diberikan pada bayi baru lahir pada kejadian-kejadin tersebut. Di Rumah Sakit Dr. R. Soetijino Blora kejadian tersebut sering terjadi. Hingga hampir semua bayi baru lahir diberikan obat mata. Obat mata yang biasa digunakan berupa salep mata gentamicin 0,3%. Dengan latar belakang sebagai berikut, maka penulis tertarik untuk mengambil judul Pemberian Obat Mata Pada Bayi Baru Lahir. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran pelakasanaan pemberian obat mata pada bayi baru lahir di Ruangan Cempaka RSUD Dr. R. Soetijono Blora. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui apa itu obat mata. b. Untuk mengetahui cara pemberian obat mata pada bayi baru lahir c. Untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan pemberian obat mata pada bayi baru lahir di RSUD Dr. R. Soetijono Bloradengan prosedur tetap. D. Manfaat 1. Lahan Praktik a. Bahan masukan dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan khususnya pemberian obat mata pada bayo baru lahir b. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun prosedur tetap pemberian obat mata pada bayi baru lahir. 2. Institusi a. Menambah referensi dan penulisan dapat dilanjutkan secara mendalam terkait pemberian obat mata pada bayi baru lahir 3. Mahasiswa a. Menambah pengetahuan, wawasan, pengalaman, profesionalisme dalam praktik pemberian obat mata. b. Memacu perkembangan ide baru dan inivasi yang lebih luas terhadap praktik pemberian obat mata. BAB II LANDASAN TEORI A. Bayi Baru Lahir yang Mendapatkan Obat Mata Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan umur kehamilan 38-40 minggu. Obat mata diberikan kepada bayi karena proses adaptasi cahaya dan adanya kotoran pada bayi. Obat mata yang biasa digunakan untuk bayi baru lahir biasanya gentamicyn 0,3 %. B. Tindakan Pemberian Obat Mata 1. Pengertian Obat Mata (Salep dan Tetes) Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok (1), Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Basis untuk salep mata biasanya petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis larut air juga digunakan. Obat jika tidak larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril (2). Salep mata memberikan keuntungan waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama. Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris (3). 2. Jenis-Jenis Obat Mata Obat mata setidaknya ada dua macam, yakni salep dan tetes/zalf. Berikut pengertiannya: a. Salep mata atau dalam istilah farmasi disebut oculenta adalah salep yang digunakan pada mata. Salep ini harus steril yang disimpan dalam tube steril. b. Sedangkan tetes mata atau disebut dalam istilah farmasi Guttae Optalmicae adalah sediaan steril dimana bahan obat dilarutkan di dalam pelarut yang cocok dan disimpan dalam tempat yang steril. Obat ini digunakan pada mata denga jalan di teteskan. 3. Pengertian Pemberian Obat Mata Pemberian obat melalui mata adalah memberi obat kedalam mata berupa cairan dan salep. Tindakan tersebut merupakan pemberian obat mata baik salep atau tetes untuk tujuan pengobatan tertentu. 4. Tujuan Pemberian Obat Mata a. Untuk mengobati gangguan pada mata b. Untuk mendilatasi pupil pada pemeriksaan struktur internal mata c. Untuk melemahkan otot lensa mata pada pengukuran refraksi mata d. Untuk mencegah kekeringan pada mata 5. Cara Pemberian Obat Mata a. Alat dan bahan 1. Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep 2. Pipet 3. Pinset anatomis 4. Korentang 5. Plester 6. Kain kasa 7. Kertas tissue 8. Balutan 9. Sarung tangan 10. Air hangat/kapas pelembab b. Prosedur kerja 1) Cuci Tangan 2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan 3) Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan 4) Gunakan sarung tangan 5) Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung. Apabila sangat kotor, basuh dengan air hangat. 6) Buka mata perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita. 7) Teteskan obat mata di daerah sakus konjungtiva. Setelah tetesan sesuai dengan dosis, anjurkan pasien untuk menutup mata secara perlahan-lahan, apabila menggunakan obat tetes mata. 8) Apabila obat mata jenis salep pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube hingga obat keluardan berikan obat pada kelopak mata bawa. Setelah selesai, anjurkan pasien untuk melihat ke bawah, secara bergantian dan berikan obat pada kelopak mata bagian atas. Biarkan pasien untuk memejamkan mata dan menggerakkan kelopak mata. 9) Tutup mata dengan kasa bila perlu. 10) Cuci tangan. 11) Catat obat, jumlah, waktu dan tempat pemberian. BAB III TINJAUAN KASUS PEMBERIAN OBAT MATA PADA BAYI BARU LAHIR BY. NY. SULIPAH DI RUANG CEMPAKA RSUD Dr. R. SOETIJONO BLORA No. Registrasi : 24002830 Tanggal masuk RS : Senin, 12 Februari 2012 Jam dilakukan tindakan : 21.00-21.05 A. Identitas Pasien 1. Biodata a. Nama Pasien : By. Ny. Sulipah b. Umur : BBL c. Alamat : Ds. Gede Ngawen, Blora d. Tanggal masuk : Senin, 12 Februari 2012 e. Ruang : Cempaka 2. Keluhan utama Mata tidak jernih 3. Riwayat penyakit sekarang BBL HPV SMV dengan Preeklamsi B. Indikasi Tindakan 1. Membantu proses adaptasi cahaya 2. Adanya kotoran pada mata bayi C. Persiapan Alat dan Bahan 1. Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep 2. Pipet 3. Pinset anatomis 4. Korentang 5. Plester 6. Kain kasa 7. Kertas tissue 8. Balutan 9. Sarung tangan 10. Air hangat/kapas pelembab D. Pelaksanaan Keterampilan 1. Cuci Tangan 2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan 3. Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan 4. Gunakan sarung tangan 5. Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung. Apabila sangat kotor, basuh dengan air hangat. 6. Buka mata perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita. 7. Teteskan obat mata di daerah sakus konjungtiva. Setelah tetesan sesuai dengan dosis, anjurkan pasien untuk menutup mata secara perlahan-lahan, apabila menggunakan obat tetes mata. 8. Apabila obat mata jenis salep pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube hingga obat keluardan berikan obat pada kelopak mata bawa. Setelah selesai, anjurkan pasien untuk melihat ke atas. Biarkan pasien untuk memejamkan matadan menggerakkan kelopak mata. 9. Tutup mata dengan kasa bila perlu. 10. Cuci tangan. 11. Catat obat, jumlah, waktu dan tempat pemberian. E. Evaluasi 1. Evaluasi keadaan mata pasien Mata terlihat lebih jernih 2. Evaluasi respon pasien a. Pasien terlihat lebih nyaman b. Pasien terlihat lebih sehat 3. Evaluasi Tindakan a. Tindakan dilakukan dengan baik, walaupun ada beberapa point dalam standar prosedur yang tidak dilaksanakan. b. Agak sulit untuk mengatur pasien diam saat dilakukan tindakan. BAB IV PEMBAHASAN A. Kesesuaian 1. Secara Teori a. Alat dan Bahan 1) Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep 2) Pipet 3) Pinset anatomis 4) Korentang 5) Plester 6) Kain kasa 7) Kertas tissue 8) Balutan 9) Sarung tangan 10) Air hangat/kapas pelembab b. Pelaksanaan Keterampilan 1) Cuci Tangan 2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan 3) Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan 4) Gunakan sarung tangan 5) Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung. Apabila sangat kotor, basuh dengan air hangat. 6) Buka mata perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita. 7) Teteskan obat mata di daerah sakus konjungtiva. Setelah tetesan sesuai dengan dosis, anjurkan pasien untuk menutup mata secara perlahan-lahan, apabila menggunakan obat tetes mata. 8) Apabila obat mata jenis salep pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube hingga obat keluardan berikan obat pada kelopak mata bawa. Setelah selesai, anjurkan pasien untuk melihat ke bawah, secara bergantian dan berikan obat pada kelopak mata bagian atas. Biarkan pasien untuk memejamkan mata dan menggerakkan kelopak mata. 9) Tutup mata dengan kasa dan plester bila perlu. 10) Cuci tangan. 11) Catat obat, jumlah, waktu dan tempat pemberian. 2. Secara Praktek a. Persiapan Alat dan Bahan 1) Obat mata (tetes atau salep) 2) Kapas kering steril/tissue 3) Kapas basah (normal saline) steril 4) Kapas/penutup mata dan plester 5) Sarung tangan steril b. Pelaksanaan Keterampilan 1) Persiapkan alat dan bahan di dekat pasien 2) Jelaskan pada keluarga pasien mengenai prosedur yang akan diberikan 3) Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan 4) Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir 5) Pakai sarung tangan steril 6) Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung. Apabila sangat kotor, basuh dengan air hangat. 7) Buka mata perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita. 8) Teteskan obat mata di daerah sakus konjungtiva. Setelah tetesan sesuai dengan dosis, anjurkan pasien untuk menutup mata secara perlahan-lahan, apabila menggunakan obat tetes mata. 9) Apabila obat mata jenis salep pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube hingga obat keluardan berikan obat pada kelopak mata bawa. Setelah selesai, anjurkan pasien untuk melihat ke bawah, secara bergantian dan berikan obat pada kelopak mata bagian atas. Biarkan pasien untuk memejamkan mata dan menggerakkan kelopak mata. 10) Bersihkan daerah mata yang terkena sisa salep mata dengan menggunakan tissue. 11) Tutup mata pasien beberapa menit 12) Tutup mata dengan kasa dan plester bila perlu. 13) Rapikan pasien dan mengatur dalam posisi yang nyaman 14) Membereskan peralatan 15) Melepas sarung tangan 16) Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir 17) Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan B. Ketimpangan Tindakan pemberian obat mata pada bayi baru lahir yang dilakukan di ruang cempaka RSUD Dr. R. Soetijono Blora sudah sesuai dengan teori sehingga tidak terdapat ketimpangan di dalamnya. Hanya saja perawat jaga tidak menjelaskan tindakan langsung pada pasien, karena pasien masih bayi baru lahir. Akan tetapi, perawat menjelaskannya kepada keluarga pasien. C. Rasionalisasi Tindakan pemberian obat mata pada bayi baru lahir yang dilakukan di ruang cempaka RSUD Dr. R. Soetijono Blora sudah sesuai dengan teori sehingga tidak terdapat ketimpangan di dalamnya. Hanya saja perawat jaga tidak menjelaskan tindakan langsung pada pasien, karena pasien masih bayi baru lahir. Akan tetapi, perawat menjelaskannya kepada keluarga pasien. BAB III PENUTUP A. SIMPULAN 1. Mahasiswa sudah mengetahui gambaran pemberian obat mata pada bayi baru lahir di ruang Cempaka RSUD Dr. R. Soetijono Blora. 2. Mahasiswa sudah mengetahui apa itu pemberian obat mata. 3. Mahasiswa sudah mengetahui cara pelaksanaan pemberian obat mata pada bayi baru lahir. 4. Mahasiswa sudah mengetahui kesesuaian pelaksanaan pemberian obat mata di RSUD Dr. R. Soetijono Blora. B. SARAN 1. Bagi institusi pendidikan Diharapkan untuk lebih membimbing mahasiswa tentang fungsi dan peran mahasiswa dalam melaksanakan tindakan pemberian obat mata pada bayi baru lahir. 2. Bagi institusi RSUD.Dr. R. Soetijono Blora Untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan peralatan untuk setiap tindakan yang akan dilakukan. 3. Bagi mahasiswi Diharapkan agar mahasiswa dapat lebih aktif dan efisien dalam mempelajari ketrampilan dasar praktik klinik dan mampu melaksanakan tindakan dengan baik dan benar. DAFTAR PUSTAKA Ambarwati, Eny Retna dan Tri Sunarsih. 2009. KDPK Kebidanan, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta. Nuha Medika. Fatmawati, Ery. 2011. Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Yogyakarta. Madani Press. Kusmiyati, Yuni. 2010. Penuntun Dasar Praktik Klinik Kebidanan. Yogyakarta. Fitramaya Penerbit. http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/04/17/salep-mata/ […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s