Negara kita merupakan sumber tanaman obat terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Untuk mendapatkan nutrasetikal dalam bentuk tanaman obat, Indonesia tak akan mengalami kesulitan. Kecenderungan masyarakat lebih memilih nutrisi untuk mencegah dan mengobati penyakit daripada memilih obat-obat modern. Dunia kedokteran terus berkembang. Setelah era suplemen, kini muncul nutraseutikal yang berasal dari kata nutra = nutrisi, dan seutikal = fungsi obat. Maksudnya adalah pemberian nutrisi tertentu untuk mengantisipasi masalah yang sekiranya muncul. Secara spesifik nutraseutical adalah pemberian nutrisi untuk mengatur fungsi biologis tubuh. Dengan baiknya fungsi biologi, diharapkan tubuh akan “mengobati” sendiri segala bentuk penyimpangan. Konsep ini lebih bersifat prospektif ke depan, tidak hanya sekadar mengobati atau mengatasi masalah.

Nutraseutikal adalah beberapa bahan yang dapat dipertimbangkan sebagai makanan atau bagian dari makanan dan memiliki manfaat bagi kesehatan dan pengobatan, dan biasanya dikemas dalam bentuk suatu sediaan.

Penggolongan nutraseutikal meliputi :

1. Makanan utuh (whole food)

  • Madu

  • Rumput laut

  • Kacang kedelai

  • Biji rami

  • Teh hijau

  • Bawang putih

2.Produk makanan (food products)

  • Minyak ikan

3. Kandungan dalam makanan (food constituents)

  • Vitamin

  • Mineral

  • Asam lemak esensial- EPA, DHA

  • Kandungan fitokimia dalam makanan yang spesifik : lycopene

Nutrisi adalah substansi yang diperlukan sebagai asupan dan harus tersedia dalam tubuh untuk kelangsungan hidup (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air), sedangkan nutraseutikal adalah bahan alami yang murni atau kompleks, bahan kimia bioaktif yang mempunyai efek seperti memelihara kesehatan tubuh, mencegah atau mengobati penyakit. Secara umum, perbedaan nutraseutikal dan obat tradisional adalah sebagai berikut :

  • Obat tradisional digunakan secara turun temurun, sedangkan nutraseutikal merupakan paradigma baru dalam kesehatan.

  • Obat tradisional tidak hanya digunakan secara oral tetapi juga pemakaian topikal, sedangkan nutraseutikal digunakan secara oral (berupa makan dan atau bagian makanan).

  • Obat tradisional berasal dari bahan-bahan alamiah yang tidak selalu dapat dimakan, hanya kandungannya saja yang diisolasi, sedangkan nutraseutikal hanya berasal dari bahan-bahan alam yang dapat dimakan.

Konsep nutraseutikal merupakan gabungan dari nutrisi yang ada pada “fuctional food” dengan efek fisiologis yang ada pada “complementary medicine” (suatu substansi yang berada di antara nutrisi dan farmasetikal).

Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi nutraseutikal dalam pengobatan :

  • Betakaroten, lycopene (karoten) : wortel, tomat, dan produk-produk olahan tomat. Berfungsi menetralisir radikal bebas yang dapat merusak sel dan sebagai antioksidan. Dapat memelihara kesehatan prostat.

  • Asam caffeic, asam ferulic : apel, persik, jeruk dan beberapa sayuran. Berfungsi sebagai antioksidan dan memelihara kesehatan mata dan jantung.

  • Flavonol (flavonoid) : bawang merah, apel, teh dan brokolli. Berfungsi sebagai antioksidan dan menangkal radikal bebas.

Food” adalah bahan yang dimana telah mengalami proses, semiproses, ataupun belum mengalami proses, yang digunakan untuk konsumsi manusia dan termasuk minuman, makanan yang dikunyah dan bahan-bahan lain yang biasanya digunakan sebagai zat pembangun dan perawatan, tetapi tidak termasuk kosmetik, rokok, dan bahan yang hanya digunakan sebagai obat.

Fuctional food” adalah makanan-makanan yang dapat memeberikan manfaat kesehatan dan pengobatan selain nutrisi dasar yang dikarenakan adanya bahan aktif fisiologik seperti fitokimia.

Faktor-faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas nutraseutikal :

  • Sifat fisiko kimia (stabilitas dan kelarutan)

Kelarutan dan ukuran molekul menentukan kecepatan absobsi.

  • Faktor penderita

Waktu transit dalam saluran cerna (motilitas saluran cerna dan gangguan-gangguannya dapat mempengaruhi jumlah zat yang diserap.

  • Interaksi dalam absorbsi di saluran cerna (interaksi dengan makanan lain):

Fe pada sereal lebih tinggi penyerapannya bila dikonsumsi dengan sumber makan yang mengandung vitamin C.

Hal-hal yang dapat menyebabkan hilangnya zat aktif (nutraseutikal) selama proses absorbsi yaitu :

  • Tidak dibebaskannya dari sediaan (suplemen, herbal, minuman nutraseutikal)

  • Penguraian dalam usus (bakteri)

  • FPE (first pass effect) di hati

About rgmaisyah

Hidup sangat indah bila kita mau berbagi kebahagiaan kepada sesama...

5 responses »

  1. yhessa horison mengatakan:

    thanks ya buat infonya… bermanfaat sekali…

  2. katrin mengatakan:

    Boleh minta sumber pustakanya?
    Katrin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s